ANDAIKAN AKU SEORANG WARTAWAN
oleh
Ki Dyoti
Pagi ini sekitar jam 7.00 wib, seperti biasanya aku membaca berbagai Koran di kiosk milik Gultom, kawanku yang memiliki tempat jualan 1 X 2 meter di daerah Pasar Senen, Jakarta Pusat. Dia menjual berbagai koran dan majalah/tabloid terbitan Jakarta.
“San, menurutmu berita yang mana yang paling menarik hari ini?”, pertanyaan rutin Gultom padaku.
“Tom, aku mengikuti berita-berita demo hampir di semua koran dan majalah atau tabloid; sekalipun isinya mirip tapi tidak sama; bahkan ada yang kuanggap kurang bermutu”, jawabku.
“Ah, kau bisa saja! Darimana kau tahu kurang bermutu, kau ‘kan bukan wartawan”, tukasnya.
“Aku selalu hadir di setiap demo, baik yang diadakan oleh mahasiswa maupun kaum ibu dan berbagai lsm yang ada di Jakarta ini.”
“Untuk apa kau ikut demo segala…”, tanyanya seperti sebuah interogasi orang intel.
“Tom, dari dulu hingga usiaku sekarang 30 tahun ini, aku sebenarnya ingin sekali jadi wartawan. Nah, keinginanku kusalurkan untuk membanding berita yang ingin kutulis sendiri dengan berita-berita di media massa ini”, sambil kutunjukkan kepadanya selembar isi koran yang ada berita demo.
“San”, (namaku Hassan) “apanya yang kurang dalam berita itu?”
Jawabku:” Begini, Tom. Dalam berita-berita beragam yang ditonjolkan di leadnya, yang biasanya ditulis diawal berita. Ada yang menonjolkan tujuan demo, ada yang mendahulukan jumlah yang ikut demo, siapa yang menggerakkan demo atau lainnya, yang menurut perasaanku kurang hidup untuk para pembacanya!”
“Mengapa kau bilang, pakai perasaan?”
“Ya, menurutku wartawan tidak saja menguasai teknik pembuatan berita,
tetapi juga intuisinya harus tajam.”
“Intuisi tajam untuk apa?’, rupanya putra Tapanuli ini ingin lebih tahu pendapatku tentang wartawan.
“ Begini Tom. Aku pernah berkenalan dengan seorang wartawan senior, namanya Yanto. Dia bilang bahwa berita itu sebaiknya memperhatikan sebuah pedoman.
Dan dia bilang pedomannya (aku masih ingat karena memang menarik!), berita atau tulisan wartawan harus relevan, hangat, eksklusif, ada tujuannya, unik, trendy, prestisius, dramatic, jenaka, memiliki dimensi human interest, magnitude, gaya bahasa, desain dan tataletak yang menarik, foto atau karikatur yang menarik juga.”
“Wah, mana bisa semua isi pedoman itu dimuat dalam satu berita?”. Gultom mencoba mengajukan pertanyaan yang sebenarnya sangkalan itu.
“Yaaa, memang tidak semua pedoman itu harus ada pada setiap berita, namun yang mana yang harus dipergunakan, didahulukan, NAH disitulah wartawan harus mempergunakan intuisinya! Dan bukan hanya fakta demo saja, tetapi juga proses demo yang menyangkut begitu banyak unsur. Dari gender, usia sampai pengamanannya”.
Dialog terhenti, karena terdengar dari radio berbatere di kiosk Gultom itu menyiarkan bahwa nanti jam 11.00 akan ada demo besar-besaran di Istana Negara.,
“Tom, terima kasih yaa baca gratis, sekarang aku mau ikut demo lagi”, kataku.
“Selamat bung wartawan!”, jawabnya sambil tertawa.
Aku sengaja tiba di tempat kumpul para demonstran, lebih pagi; karena aku ingin melihat dan mendengar dari dekat, apa saja yang mereka bicarakan, termasuk emosinya. Sekalipun aku berumur 30 tahun, namun aku masih kelihatan seperti mahasiswa; pakai jeans biru, kaos trendy dan topi yang harganya sekitar 10-ribuan. Dengan penampilanku itu, aku mudah berbaur dengan para mahasiswa yang kebanyakan pria daripada wanitanya.
Sekitar jam 11.00, berbagi LSM mulai juga berkumpul di tempat yang tidak berjauhan dari tempat berkumpulnya para mahasiswa.
Ini yang kudengar langsung (sebuah dialog antar-mahasiswa).
“Jon. Memang pemerintah udah keterlaluan. Masa’ naikkin harga bareng?”
“Memang Mad”, (namanya Mamad, anak betawi asli) “makanya gue mau ikut demo ini.”
‘Emangnye lu enggak pernah ikut demo-demo yang dulu?”, tanya Jon.
“Enggak tuu. Abis gue tau ada yang bayar untuk demo, tapi gue enggak kebagian! Ngapain gue ikut ngambil risiko? Lagian tujuan demonya enggak jelas alasannya…”
Narto yang jawa, ikut nimbrung dengan bahasa betawi tapi aksen jawa medog:”
Ne gue ikut, karena nyokap gue suruh ikut, abis katanya gaji bokap udah enggak cukup!”
Dalam benakku, kucatat bahwa demo ini banyak pesertanya karena memang patut mengadakan demo dan murni, bukan demo bayaran. Dialog-dialog mahasiswa-mahasiswi lainnya, juga senada. Tapi ada dialog yang menarik antara seorang mahasiswi yang cantik dengan rekan-rekannya. Aisah mengatakan kepada temannya Elvi:” Vi, lu anak orang kaya, ‘kok ikut demo?”
Elvi:”Ini benar-benar keadaan serius, Sah! Biar keluarge gue kaya, masih diatas mampu sekalipun harga-harga naik; tapi bokap gue anjurin gue ikut demo.”
“Emangnye bokap lu bilang ape, Vi?” cletuk si Norman dengan gaya playboynya.
“Dia bilang. Kalo tau perasaan rakyat, ikutlah demo! Ikut demo semacam ini,
kata bokap, adalah latihan untuk menjadi pemimpin masa depan”.
Lagi-lagi, kucatat dalam otakku, bahwa peserta demo ini ada yang ikut untuk melatih diri guna masa depannya, lebih-lebih untuk menjadi pemimpin. Semua kucatat dan akan kubuat berita, yang menurut intuisiku akan menarik pembaca; kalau saja aku memang wartawan!!! (ini bisa dijadikan monodialog).
Semula aku berada ditengah-tengah para demonstran; dan akupun tidak ketinggalan ikut meneriakkan yel-yel. Ketika kulihat beberapa wartawan kumpul di seputar demo itu, akupun menggabungkan diri dengan mereka; seolah-olah aku juga wartawan beneran! Dari rumah memang sudah kusediakan tanda press yang bisa dipakai di dada (itu kubuat dengan bantuan seorang kawan yang punya komputer dan printer!)
Kami (wah sok nii, pakai:kami), aku dan “teman-teman” wartawan, menuju ke arah para petugas keamanan. Ada yang “aneh” dalam perasaanku ketika kulihat dua orang yang termasuk kumpulan wartawan itu. Perasaanku itu, terutama karena gerak mata mereka memandang para pemimpin demonstran dan juga kepada para wartawan! Pakaiannya seperti mahasiswa, hanya saja ditangannya selalu
menggenggam handphone, yang sebentar-sebentar menghubungi entah siapa!
Dalam benakku, wah ini menarik untuk bahan berita!
Kudekati salah seorang dari mereka, tanpa dia sadar bahwa aku memperhatikannya. Apa saja yang dikerjakan? Ke siapa dia sering telpon?
Naluriku sebagai wartawan, mengatakan bahwa mereka bukan peserta demo; mungkin orang intel atau orang suruhan partai atau LSM.( ini juga bisa monodialog)
“Kancil-kancil menuju pintu gerbang”. Katanya melalui hpnya. Lalu dia berhenti bicara dan mengamati dengan mata elang ke segala penjuru. Lalu dia menghubungi lagi entah siapa dan mengatakan:”Api bisa berkobar, agar disiapkan pemadamnya”. , lalu hpnya dimatikan lagi. Akupun lebih percaya bahwa orang itu, bukan orang partai atau LSM. Tapi dari instansi mana?
Hassan sama sekali tidak menyedari bahwa ketika itu, dia juga diawasi oleh sepasang mata lainnya dari belakang. (tanpa dialog, hanya orangnya di shoot saja).
Besok paginya, seperti biasa Hassan mucul di tempat Gultom.
“Hallo, bung wartawan! Bagaimana beritamu kemarin?”, sapa Gultom dengan suaranya yang biasa menyanyi di gereja HKBP.
“Nanti dulu, bang. Aku mau baca dulu reportase para wartawan di koran-koran hari ini; sesudah itu, baru kuberi komentar”, jawabku.
Akupun membaca berbagai suratkabar dari semua penerbit di Jakarta.
“Nah, betul, bang. Tidak ada satu beritapun yang memuat apa yang kulihat dan dengar.”, kumulai menjawab pertanyaan Gultom.
“Apa yang belum mereka beritakan?” Tanya Gultom.
Sebagai jawaban, kuceritakan semua yang kucatat dalam benakku kemarin itu.
Sambil menghadapi hidangan dalam plastic: pisang dan ubi goreng serta secangkir kopi, Gultom memberikan komentarnya juga:
“Sebagai agen koran, pendapat kau, benar San!. Memang kuakui, kau berbakat jadi wartawan yang baik. Mengapa kau tidak mencoba melamar kerja sebagai wartawan?”
“Wah susah, bang. Aku sudah melamar kesana kemari, dari penerbit yang satu ke yang lain. Selalu gagal, Ternyata aku hanya lulusan SMA saja; yang diterima sarjana. Padahal sarjana ‘kan hanya membidangi s a t u pengetahuan saja, ‘kok dijadikan reporter? Masih ada alasan lainnya”.
“Alasan lain, apa?” Tanya Gultom dengan nada menekankan kepada kata “apa?”.
“Begini, bang Tom. Menurutku wartawan itu harus punya minat kepada banyak bidang, pengetahuan, kebudayaan dalam arti luas, termasuk kesenian seperti cerpen, puisi; juga bidang politik dan ekonomi-keuangan, perundang-undangan, politik dan keamanan. Juga pendidikan dan dunia hiburan;pokoknya tertarik kepada segala bidang kehidupan manusia!”, jawabku seperti gurubesar memberi kuliah.
“Untuk apa? “kan bisa saja diadakan spesialisasi penulisan oleh wartawan”.
“Lho, itu .’kan menulis artikel, bukan berita”. Tukasku. Kulanjutkan:
“Ada lagi hal lain yang menarikku untuk jadi wartawan beneran”. Lalu kudiam sejenak. Menunggu ulasan Gultom; tetapi dia diam saja.
“Alasan lain aku ingin jadi wartawan, karena wartawan tidak kenal pensiun!
Kalau presiden, menteri atau anggota DPR ‘kan ada pensiunnya. Kalau wartawan, tidak! Presiden, menteri, para anggota DPR pensiun; wartawan tetap wartawan”, kataku dengan sedikit lantang. Kulanjutkan, karena Gultom sedang menjadi pendengar yang baik:
“Jadi wartawan itu, inovatif; artinya setiap hari menghadap hal /keadaan baru, dengan pemecahannya yang sangat mungkin juga baru. Bayangkan buat orang-orang yang kreatif!”
Gultom minta contoh.
Kujawab:”Wartawan itu juga orang kuat, pemberi informasi kepada rakyat. Juga pendidik, juga penghibur; tapi juga bisa jadi perusak; tergantung integritas moralnya!”.
Rupanya Gultom tersentak atas ucapanku itu. Dia dengan pengalamannya selama 9 tahun sebagai agen harian, tabloid dan majalah, memang dekat dengan redasi penerbitan; karena penerbit dan redaksi yang baik selalu minta nasehat kepada para agennya; bahkan para agen diberi hadiah oleh penerbit yang kuat. Malahan dia pernah mengatakan, bahwa hasilnya sebagai agen, penghasilannya jauh lebih besar dari gaji wartawan.
Karena aku ingin jadi wartawan beneran, ini kesempatanku untuk menambah pengetahuanku tentang dunia jurnalistik. Kutanyakan padanya:
“Bang, redaksi minta nasehat abang? Apanya yang ditanya?”
“Begini San. Redaksi itu suka ditegur oleh penerbit, ketika oplahnya turun.
Jika kemarin laku seribu eksemplar, mengapa besoknya hanya cuma laku tiga ratus eksemplar saja. Lalu penerbit minta agar seluruh redaksi mengadakan “mawasdiri”. Nah, merekapun datang ke agen seperti aku ini, untuk menanyakan mengapa penjualannya turun drastis?”
Aku bisa menangkap arah penjelasannya lebih lanjut, lalu Gultom meneruskan:
“San, aku beri mereka perbandingan mengenai hari itu ketika penerbitan mereka turun dibeli orang dengan penerbitan lain yang sangat laku pada hari yang sama. Ternyata, penyebabnya adalah berita dan foto di penerbitan lain itu, lebih menarik! Jadi, redaksi itu belajar juga dari orang seperti aku”,
Gultom bersuara dengan kebanggan orang kecil sebagai hanya agen harian/majalah dan tabloid.
Aku merenung keterangan Gultom, dan renunganku terputus ketika Gultom, melanjutkan:
“San, ada lagi yang menarik dari wartawan beneran. Ketika aku ngobrol, dia mengatakan, sering dia jengkel, karena naskah berita yang dibuatnya, dirobah oleh deskman (redaktur), disesuaikan dengan selera pimpinan redaksinya!
Malahan diapun bilang bahwa pembuatan berita harus sesuai dengan sudut
pandang pemimpin redaksinya. Dia jengkel sekali, San!”.
Dalam hatiku bertanya:”Bagaimana objektivitas berita semacam itu?” (monodialog)
Keinginanku untuk jadi wartawan beneran bertambah menggebu-gebu, sehingga aku sulit tidur! Kubayangkan ketika aku mewawancarai presiden, artis beken, anggota dpr yang masih jujur, kaum ulama, tokoh dunia pendidikan, tokoh LSM Wanita, tokoh yang benar-benar anti-korupsi dengan ucapan dan teladan hidup sehari-harinya. (“Kubayangkan” ini, dapat dishoot penggalan seolah-olah sedang mewawancarai sebenarnya).
Sudah beberapa hari Gultom menunggu kedatangan sahabatnya: Hassan. Sejak itu, Hassan tak pernah muncul di kiosknya, menghilang tanpa jejak, tanpa informasi keberadaannya.
“Semoga Hassan diterima bekerja sebagai wartawan”. Begitulah doa dan harapan
Gultom.
Pamulang 2 Pebruari 2003, jam17.25 wib (karya selama 1 ½ jam)
Ki Dyoti
akumatidibumiini
akuhidupdialamsunyi
0 Tanggapan ke “ANDAIKAN AKU SEORANG WARTAWAN”